Obat Atau Racun

Dalam pengobatan kita selalu menggunakan istilah obat untuk menyembuhkan,meringankan atau menghindari suatu penyakit. Jelas terlihat perbedaan terminologi yang berbeda antara obat dan racun. Tetapi apakah kita sadar bahwa sesungguhnya kita telah menggunakan “racun” untuk “mengobati” penyakit.


Obat yang kita maksud sebenarnya racun, contoh kita memberikan vaksin, yang kita maksud untuk mencegah dari penyakit tertentu seperti campak, DPT, polio, dsb, ini adalah virus yang tergolong racun bagi kesehatan kita, tetapi menjadi berfungsi obat secara tidak langsung karena virus sudah dilemahkan dan memberikan efek imunitas aktif  pada tubuh karena terbentuknya antibodi secara alami. Tinjaun ini kita ambil dari aspek sifat racun yang bisa kita manipulasi menjadi obat. Adakah tinjauan aspek lain yang bisa kita telaah.Tinjauan aspek dosis perlu kita bahas untuk menjelaskan sifat obat dan racun tersebut.   Setiap penggunaan obat membutuhkan takaran atau dosis,  miligram, gram, dan lainnya. Ini memberikan batasan bahwa obat tidak boleh atau bahkan kan berakibat fatal jika diberikan tidak sesuai dosis yang diperintahkan. Contoh : obat sakit kepala paracetamol, dosis wajar 500 mg, dengan efek terapeutik sekitar  15 menit, dengan asumsi waktu penyembuhan yang bisa dipercepat menjadi 3 menit, maka secara matematis kita bisa melipatgandaka dosis menjadi 2500 mg sekali minum. Asumsi ini jelas keliru karena kita ketahui bahwa hampir semua obat mempunyai efek samping ikutan dalam penggunaannya. Belum lagi untuk obat yang memiliki indeks terapeutik sempit, maksudnya : dosisnya sangat kecil (dalam beberapa miligram) dan tidak boleh lebih dari 200% dari dosis normal. Ini akan sangat berbahaya jika kita menggunakan asumsi matematis seperti penggunaan paracetamol. Pengguna obat akan minimal keracunan dan beresiko mengalami cacat permanen atau kematian. Contoh obat tersebut seperti striknin.


Lalu mengapa terapi harus dilakukan dengan berbagai resiko yang akan timbul dari suatu penggunaan obat? Dokter atau Apoteker (dan petugas kesehatan lain) selalu menghitung manfaat dan kerugian dalam setiap tindakan pengobatan. Andaikan suatu penyakit itu dibiarkan maka akan pasti berakibat pada kerugian baik ringan , sedang, berat sampai pada kematian. Maka dengan pengobatan/tindakan medis maka resiko bisa dihindari atau maksimal dihilangkan, tetapi kadang/bahkan seringkali resiko tidak bisa dihilangkan,tetapi diperkecil bahkan  tetap beresiko besar tetapi bisa dibenarkan karena untuk menolong nyawa pasien. Tentunya dengan pertimbangan yang dibenarkan secara medis. Disinilah letak keahlian seorang tenaga medis diuji untuk menentukan sikap didalam tindakan medis. Ini sering terjadi pada penderita dengan tingkat penyakit yang kompleks.


Ada tinjauan lain yang juga sangat strategis yaitu aspek psikis yang dipelajari dalam psikotherapy.
KIranya penyampaian secara sederhana ini bisa dipahami bagi masyarakan umum dalam memahami dunia pengobatan.


Salam,
Hario Pamungkas
Lahir Surabaya, 1968,Apoteker, anak 4, 1 istri


http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2010/06/25/obat-atau-racun/

Klik Untuk Memberi Makan